Tedong Petarung sebagai Distorsi Budaya: Analisis Hukum Adat dan Hukum Pidana terhadap Pergeseran Makna Tedong Silaga di Toraja

Authors

  • Yudha Febry Fernando Universitas Borneo Tarakan

DOI:

https://doi.org/10.55606/birokrasi.v4i1.2492

Keywords:

criminal law, cultural distortion, customary culture, customary law, tedong petarung

Abstract

The phenomenon of tedong petarung in Toraja has generated controversy due to its shift from the traditional tedong silaga, which historically formed part of Torajan customary rituals. This practice has evolved into entertainment and competition frequently associated with gambling activities. This study aims to analyze tedong petarung as a form of cultural distortion from the perspectives of customary law and criminal law, as well as to examine the limits of customary culture recognition within the national legal system. This research employs a normative legal method using statutory, conceptual, and sociological approaches. Legal materials were collected through library research consisting of legislation, legal literature, journals, and related documents. The study finds that tedong silaga possesses legitimacy as part of Torajan customary culture containing social, symbolic, and spiritual values. However, modern tedong petarung practices demonstrate a shift toward commercialization and gambling, obscuring the philosophical values of the original tradition. From a criminal law perspective, such practices potentially fulfill the elements of gambling offenses under Indonesian positive law. This study concludes that recognition of customary culture must remain aligned with public order, morality, and national law.

References

Andriani, D. (2022). Living law dan pengakuan hukum adat dalam sistem hukum nasional Indonesia. Jurnal Rechtsvinding, 11(2), 145–160.

Arifin Andiwewang, A., Moonti, R. M., & Ahmad, I. (2025). Restatement terhadap unsur perencanaan dalam Pasal 340 KUHP. Amandemen: Jurnal Ilmu Pertahanan, Politik dan Hukum Indonesia, 2(3), 84–96. https://doi.org/10.62383/amandemen.v2i3.992

Arifin, Z. (2023). Transformasi budaya lokal dalam perspektif hukum pidana Indonesia. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 30(1), 88–104.

Ehrlich, E. (1936). Fundamental principles of the sociology of law. Harvard University Press.

Fadli, M. (2022). Perjudian dalam budaya lokal dan problematika penegakan hukum pidana. Jurnal Legislasi Indonesia, 19(3), 233–248.

Firmansyah, R. (2024). Modernisasi dan benturan nilai adat dengan hukum positif di Indonesia. Jurnal Supremasi Hukum, 13(1), 55–71.

Friedman, L. M. (1975). The legal system: A social science perspective. Russell Sage Foundation.

Geertz, C. (1992). The interpretation of cultures. Basic Books.

Hamzah, A. (2021). Perjudian dalam perspektif hukum pidana Indonesia. Jurnal Legislasi Indonesia, 18(3), 211–225.

Hidayat, A. (2023). Komersialisasi budaya lokal dan hilangnya nilai filosofis masyarakat adat. Jurnal Kebudayaan Nusantara, 7(2), 120–136.

Hidayat, A., & Karim, R. (2024). Komodifikasi budaya adat dalam masyarakat modern Indonesia. Jurnal Sosial Humaniora, 16(1), 44–59.

Kartono, K. (2014). Patologi sosial. Rajawali Pers.

Kleden, I. (2017). Sikap ilmiah dan kritik kebudayaan. LP3ES.

Koentjaraningrat. (2015). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta. https://doi.org/10.7454/ai.v0i47.3271

Kurniawan, R., & Putri, N. (2024). Komodifikasi budaya adat dalam masyarakat modern. Jurnal Sosiohumaniora, 26(1), 77–92.

Lamintang, P. A. F. (2019). Dasar-dasar hukum pidana Indonesia. Citra Aditya Bakti.

Lauer, R. H. (2013). Perspektif tentang perubahan sosial. Rineka Cipta.

Lestari, F. (2022). Budaya hukum masyarakat adat dalam perspektif Lawrence Friedman. Jurnal Mimbar Hukum, 34(2), 201–216.

Maulana, I. (2021). Pengakuan budaya adat dalam sistem hukum nasional Indonesia. Jurnal Konstitusi dan Demokrasi, 9(2), 98–113.

Nugroho, A. (2021). Politik hukum KUHP nasional dan pengakuan living law. Jurnal Konstitusi, 18(4), 567–582.

Prasetyo, D. (2021). Hukum progresif dan keadilan sosial dalam masyarakat modern. Jurnal Hukum dan Pembangunan, 51(3), 415–430.

Pratama, H. (2023). Distorsi budaya dan perubahan sosial dalam masyarakat adat. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 25(2), 133–148.

Rahardjo, S. (2009). Hukum progresif: Sebuah sintesa hukum Indonesia. Kompas.

Rahmawati, S. (2023). Dinamika hukum adat dan perubahan sosial masyarakat Indonesia. Jurnal Socius, 12(1), 66–81.

Resi. (2024). Tindak pidana dalam kegiatan adat ma'pasilaga tedong di Toraja Utara perspektif hukum nasional dan hukum pidana Islam. Jurnal Al-Ishlah, 22(1), 44–58.

Sari, D., & Nugraha, F. (2022). Praktik perjudian dalam budaya lokal dan tantangan penegakan hukum pidana. Jurnal Yudisial, 15(2), 177–192.

Siregar, M. (2020). Pendekatan socio-legal dalam penelitian hukum adat. Jurnal Yudisial, 13(3), 299–314.

Soekanto, S. (2012). Hukum adat Indonesia. Rajawali Pers.

Soemardjan, S. (2014). Perubahan sosial di Indonesia. Prenada Media.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Utami, P. (2022). Konflik budaya dan penegakan hukum pidana dalam masyarakat adat Indonesia. Jurnal Rechtsidee, 9(1), 55–70.

Wahyuni, R. (2023). Perubahan sosial dan transformasi budaya masyarakat adat di era modernisasi. Jurnal Sosiologi Nusantara, 11(2), 101–118.

Wijaya, T. (2022). Pendekatan hukum progresif dalam penyelesaian konflik sosial budaya. Jurnal Arena Hukum, 15(1), 89–105.

Downloads

Published

2026-03-31

How to Cite

Yudha Febry Fernando. (2026). Tedong Petarung sebagai Distorsi Budaya: Analisis Hukum Adat dan Hukum Pidana terhadap Pergeseran Makna Tedong Silaga di Toraja. Birokrasi: JURNAL ILMU HUKUM DAN TATA NEGARA, 4(1), 227–241. https://doi.org/10.55606/birokrasi.v4i1.2492

Similar Articles

<< < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.