Disfungsi Sistem Peradilan Pidana Anak dalam Menekan Angka Kriminalitas Anak di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat

Authors

  • Hasanatul Wahida Universitas Prima Nusantara Bukittinggi
  • Hengki Januardi Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi
  • Andy Riski Pratama Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi

DOI:

https://doi.org/10.55606/birokrasi.v3i4.2789

Keywords:

Adat Basandi Syarak, Diversion, Juvenile Delinquency, Law Enforcement Effectiveness, Restorative Justice

Abstract

This study aims to analyze the dysfunction of the juvenile criminal justice system in reducing juvenile crime rates in Pesisir Selatan Regency, identify the factors contributing to this dysfunction based on the theory of law enforcement effectiveness, and formulate strategies to strengthen the system in accordance with the socio-cultural characteristics of the Minangkabau community. Data were collected through document analysis of legislation, official institutional documents, and relevant scholarly literature, and were analyzed using descriptive qualitative methods. The findings indicate that diversion has been implemented in accordance with Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System and has successfully resolved several juvenile cases through a restorative justice approach. However, these procedural achievements have not significantly reduced overall juvenile crime rates due to persistent dysfunctions in preventing recidivism, coordinating between the formal legal system and traditional nagari institutions, and limitations in facilities, personnel, and integrated data management. Analysis based on Soerjono Soekanto's theory of law enforcement effectiveness reveals that the effectiveness of the juvenile criminal justice system is influenced by legal, institutional, infrastructural, societal, and cultural factors that remain inadequately integrated. Therefore, strengthening the juvenile criminal justice system requires the development of local policies integrating nagari institutions into diversion and post-diversion supervision, enhancing inter-agency coordination, improving the capacity of law enforcement personnel, establishing an integrated data management system, and optimizing the Minangkabau philosophy of adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah as the foundation for sustainable restorative justice.

References

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pesisir Selatan. (2024). Kabupaten Pesisir Selatan dalam angka 2024. BPS Kabupaten Pesisir Selatan.

Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Pesisir Selatan. (n.d.). Diversi perkara tindak pidana penganiayaan anak di bawah umur di Kecamatan Sutera. https://dinsosppa.pesisirselatankab.go.id/

Fauzi, & Yuliana. (2022). Efektivitas penerapan diversi dalam sistem peradilan pidana anak di Indonesia. Jurnal Ius Constituendum, 7(2), 187–203.

Harahap, M. Y. (2017). Pembahasan permasalahan dan penerapan KUHAP (Edisi ke-2). Sinar Grafika.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2023). Pedoman pelaksanaan sistem peradilan pidana anak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (n.d.). Dorongan penyelesaian perkara anak melalui diversi. https://www.kemenpppa.go.id/

Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2024). Laporan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2024. Polres Pesisir Selatan.

Langgam.id. (2024, December 14). Upaya pemberantasan kenakalan remaja yang menjadi masalah sosial di Sumbar. https://langgam.id/

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2014). Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2014 tentang pedoman pelaksanaan diversi dalam sistem peradilan pidana anak. Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Marlina. (2012). Peradilan pidana anak di Indonesia: Pengembangan konsep diversi dan restorative justice. Refika Aditama.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative data analysis: An expanded sourcebook (2nd ed.). Sage Publications.

Nashriana. (2014). Perlindungan hukum pidana bagi anak di Indonesia. Rajawali Pers.

Padangkita.com. (2022, April 6). Ngeri! Kabupaten Pesisir Selatan urutan 3 dengan angka kriminal tertinggi di Sumbar. https://padangkita.com/

Pemerintah Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 153.

Pemerintah Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Lembaran Negara Republik Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia. (2015). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2015 tentang pedoman pelaksanaan diversi dan penanganan anak yang belum berumur 12 (dua belas) tahun. Lembaran Negara Republik Indonesia.

Pengadilan Negeri Painan. (n.d.). Profil dan layanan Pengadilan Negeri Painan. https://pn-painan.go.id/

Pradityo, R. (2016). Garis lurus diversi sebagai pendekatan non-penal. Jurnal RechtsVinding Online.

Prasetyo, & Wibowo. (2023). Restorative justice sebagai upaya perlindungan anak yang berhadapan dengan hukum. Jurnal RechtsVinding, 12(1), 75–91.

Sari, & Putra. (2024). Implementasi keadilan restoratif dalam sistem peradilan pidana anak di Indonesia. Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 24(1), 45–60.

Soekanto, S. (2019). Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. Rajawali Pers.

Soetedjo, W., & Melani. (2013). Hukum pidana anak. Refika Aditama.

Sugiyono. (2023). Metode penelitian kualitatif (Edisi ke-4). Alfabeta.

Sulistyowati Irianto, & Shidarta. (2011). Metode penelitian hukum: Konstelasi dan refleksi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Unes Journal of Swara Justisia. (2024). Persepsi masyarakat terhadap penyelesaian tindak pidana yang dilakukan anak secara diversi. Unes Journal of Swara Justisia.

Wahyudi, S. (2011). Implementasi ide diversi dalam pembaharuan sistem peradilan pidana anak di Indonesia. Genta Publishing.

Downloads

Published

2025-12-31

How to Cite

Hasanatul Wahida, Hengki Januardi, & Andy Riski Pratama. (2025). Disfungsi Sistem Peradilan Pidana Anak dalam Menekan Angka Kriminalitas Anak di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat. Birokrasi: JURNAL ILMU HUKUM DAN TATA NEGARA, 3(4), 24–34. https://doi.org/10.55606/birokrasi.v3i4.2789

Similar Articles

<< < 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.